Cita-cita penghapusan aturan yang berorientasi pada pemidaan terhadap anak akhirnya terwujud setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA). Sebelum UU SPPA, pelaksanaan pengadilan anak di Indonesia bertumpu pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 yang dinilai belum dapat mengakomodir kepentingan-kepentingan anak.

 

Tujuh tahun setelah keberlakuan UU SPPA, Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berkunjung ke Fakultas Hukum Universitas Airlangga, tepatnya di Gedung C Pusat Studi Hukum, untuk berdiskusi dan tanya jawab mengenai evaluasi pelaksanaan UU SPPA. Diskusi yang dilaksanakan pada 11 Februari 2020 itu mengangkat beberapa substansi dalam UU SPPA, diantaranya terkait aksesibilitas aturan, pelaksanaan diversi, hingga pendampingan bagi anak di pengadilan.

 

“Salah satu permasalahan umum dalam legislastive drafting di Indonesia adalah aksesibilitas peraturan perundang-undangan. Dari 8 Peraturan Pemerintah yang diamanatkan oleh UU SPPA, saya hanya dapat mengakses 5 Peraturan Pemerintah saja.” Ungkap Amira Paripurna, dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan ketua Pusat Studi Hukum HAM Fakultas Hukum Universitas Airlangga ketika mengutarakan perihal aksesibilitas UU SPPA.

 

Perihal lain yang menjadi catatan bagi DPR RI adalah pelaksanaan diversi. Diversi yang umumnya bertujuan untuk menjauhkan penahanan anak dari pemenjaraan, pada realitasnya masyarakat masih menganggap ganjaran atas tindak pidana adalah sebuah hukuman. Pula, tak jarang ketentuan diversi disalahgunakan oleh sejumlah oknum untuk memanfaatkan anak agar melakukan tindak pidana.

 

Terkait dengan pendampingan, terutama jika pelaku dan korban merupakan anak-anak, akan lebih baik jika ada pendampingan khusus yang bersifat psikososial. “Mengingat selama ini dalam UU SPPA hanya terdapat pendampingan pada tahap pra pengadilan, padahal pasca pengadilan juga masih membutuhkan pendampingan terutama pada anak korban.” Tambah Amira.

Penulis: Risdiana Izzaty