Pada hari Selasa, 3 Maret 2020 Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga (BEM FH Unair) bekerja sama dengan HRLS yang diwakili oleh Dwi Rahayu Kristianti dalam melakukan diskusi mengenai kesetaraan gender di dalam lingkup civitas akademika FH Unair di Ruang Pusat Studi FH Unair. Diskusi ini merupakan salah satu agenda dalam serangkaian dari kegiatan Pekan Perempuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial dan Politik BEM FH Unair.

Pada kesempatan tersebut Dwi Rahayu membicarakan tentang equal campus dalam perspektif gender. Hal tersebut ia sampaikan untuk menjawab keresahan mengenai kesetaraan gender dan juga isu-isu yang berkaitan dengan gender seperti halnya isu-isu pelecehan seksual dalam lingkup kampus. “Bahkan dilingkungan kampus sendiri tidak bisa kita jadikan tempat yang kita percayai aman dari tindakan-tindakan pelecehan seksual” ungkapnya.

Ungkapan tersebut bukan hanya bualan belaka, dari survei yang telah ia lakukan bersama BEM FH Unair ditemukan banyak fakta mengejutkan mengenai banyaknya peristiwa yang tidak mencerminkan kesetaraan gender baik itu berbentuk catcalling, body shaming, sexist jokes, porn/semi porn based jokes, sexual harassment, atau tidak setaranya kepemimpinan dalam bidang kepemimpinan di lingkup fakultas. Ironisnya perilaku-perilaku tersebut ternyata tak hanya dilakukan antar mahasiswa saja, melainkan juga dilakukan oleh beberapa oknum dosen dan tenaga pendidik dalam fakultas kepada mahasiswa.

Dalam akhir sesi diskusi tersebut Dwi rahayu mengungkapkan bahwa terdapat beberapa cara untuk meminimalisir isu-isu tentang gender tersebut antara lain dengan meningkatkan awareness pada setiap orang utamanya dalam lingkup kampus. Lalu juga dengan melakukan sosialisasi, edukasi, penyuluhan, kampanye, kajian diskusi dan lain sebagainya mengenai gender. Peserta dari diskusi tersebut juga sepakat agar isu mengenai kesetaraan gender dan candaan seksual tidak boleh dianggap sebagai hal yang normal agar tidak terus menerus dilakukan. “Setidak-tidaknya jika kita masih belum mampu melakukan itu, kita cukup tidak menghalangi teman kita yang ingin melaporkan atau mengusahakan penegakan hukum pada kasus mengenai gender yang dialaminya” tutupnya.

 

Penulis : Aldyan Faizal